Disaat dunia tengah digegerkan oleh virus H1-N1 alias flu babi yang telah menelan banyak korban, di Mesir saja baru-baru ini sudah hampir mencapai 100 kasus. Semoga kita terhindar dari bahaya virus ini. Namun, pernahkah kita sadar bahwa ada virus yang tak kalah hebatnya, yang menghantam banyak jiwa, yaitu virus perusak keikhlasan.

Jika ketulusan tidak lagi diindahkan, maka dampak negatifnya pun akan tampak jelas. Meski sudah berusaha menutup-nutupi. Jika sang Guru tak lagi ikhlas memberikan ilmunya maka hilanglah berkah, lahirlah pengajaran yang tak optimal. Atau pengajarannya optimal, namun materi yang diajarkan malah ngaco, sehingga yang lahir adalah sarjana-sarjana yang berpotensi besar mencoreng muka Islam. Melahirkan kebingungan ditengah umat. Mengusung pemahaman-pemahaman yang memukau, sekelian mengada-ngada.

Begitu juga sang murid, jika tak lagi ikhlas untuk mendapatkan ilmu, yang terlihat adalah tawuran dan segala tindakan-tindakan anarkis serta tak sedikit juga yang menjadikan alasan studi demi mendapatkan banyak uang dari otunya buat kepentingannya yang samasekali tak ada hubungannya dengan studi.

Tak ayal ada hati kecil yang yang berbisik setengah menjerit; Inikah tanda-tanda itu? Tanda-tanda akan berakhirnya sebuah ruang berupa kehidupan duniawi. Dan kemudian beralih kepada alam ketiga dimana semua makhluk akan kembali dibangkitkan. Alam baka. Alam yang tak lagi mengenal mati?

Mungkin ini jeritan dari setiap jiwa yang masih mendambakan kebenaran. Setiap mereka menjerit sedalamnya. Meraung memecah langit-langit raga. Sesekali tersenyum dan bahkan tertawa sendiri bak pangeran gila. Menyampaikan kepada alam tetang eksistensi sebuah kebenaran dan keikhlasan. Bingung. Seakan kebenaran tak tersisa lagi. Disetiap sudut gerak dan langkah seakan selalu diisi oleh motiv-motiv 'terselubung'.

Ah, ikhlas. Tampakanya kau tak lagi diindahkan. Sekarang coba kita lihat, ada apa pula dengan CINTA. Setiap diri memiliki rasa ini. Tak ada jidal diruang ini. Pokonya kalau sudah ngomong pasal cinta semua pasti bagai ditabur bunga. Dunia terasa begitu indah. Tapi, dimanakah cinta itu? Sungguh aku ragu akan wujudnya hari ini.

Banyak orang menyebut cinta itu buta, benarkah? Mungkin benar jika orang itu jauh dari makna cinta. Sehingga cinta benar-benar membutanya. Kita mungkin sering melihat ada sahabat yang melupakan sahabatnya, tak lagi mengindahkan persahabatan itu, karena dia telah mendapatkan cinta. Hari-hari, bahkan detik demi detik ia habiskan demi cintanya. Hingga, saking butanya si pecinta ini tak lagi ‘ramah’ dengan lingkungannya. Ia lupa semua itu. Ia telah buta sebelum dibutakan.

Sungguh sangat berarti jika ia mentadaburi sabda Rasulullah Saw: “tidak beriman seorang kamu hingga aku lebih dicintainya dari ayahnya, anaknya dan manusia semuanya” (HR.Bukhari dan Muslim)
Begitu indah sebuah ikatan cinta yang terjalin. Pertemanan yang berorientasi pada puncak maknanya. Semuanya bak indahnya kawanan beburungan yang beterbangan diangkasa luas. Berkicau, bercanda dan menari dengan alaminya. Subhanallah!

Tapi, masihkah keikhlasan itu tersisa?

Tak seharusnya materi menjadi aral yang menutupi pintu-pintu keikhlasan, akan lebih baik jika ia menjadi penyokong terbentuknya jalinan ukhwah yang tebal dan ladang amal shaleh yang luas.

Mari kembali kita melihat kealam nyata. Dunia perpolitikan semakin menyibak tirai persaingan. Setiap individu merasa dirinya sudah siap memegang tampuk kepemimpinan. Demi mewujudkan tujuan ini ia harus melakukan apapun agar ia bisa duduk disinggasana itu. Terjadilah kompetisi yang terkadang tidak sehat. Hingga akhirnya berkuasalah raja-raja yang juga terkadang tidak begitu ambil pusing dengan sebuah amanah, so berjejerlah penguasa-penguasa yang ananiyah alias ego.

Selain itu, kita juga seakan ruwet membedakan antara ulama dan non ulama. Hatta orang yang sudah kasat mata kita lihat ide-idenya merobohkan sendi-sendi Islam ingin juga diakui figurnya. Sungguh, dizaman ini masing-masing ingin diakui kealimannya, meskipun sesungguhnya tanpa ilmu. Sebenarnya ia maklum dengan apa yang disebut ‘amanah’. Namun, kembali jiwa itu membuang jauh rasa ingin mewujudkan kebenaran sesungguhnya.

Berretorika sebaik-baiknya adalah tantangan yang musti dikuasai dizaman ini. Dari sini sang orator bisa membius banyak orang. Membuat semua ternganga dengan gaya orasinya. Meski kenyataan dilapangannya sangatlah nihil.

Sebuah solusi tepat untuk mencampakkan embel-embel dibelakang semua jejak-langkah, itulah ikhlas. Sehingga semua yang diucap serupa dengan apa yang diperbuat. Karena pada hakekatnya orang mukmin itu adalah banyak berbuat dan sedikit berbicara, bukan sebaliknya.

Dari sini tak ada lagi yang menjadikan standar hidupnya adalah figur seseoarang, sebuah gerakan dsb. Tak ada lagi. Yang ada adalah standaritas yang telah lama digariskan, yaitu Syariat Nabi Muhammad Saw.

Sehingga tak adalagi suara sumbang yang mengatakan, “ah, si ‘A’ itu katanya backgroundnya ini, tapi kenapa kok dia seperti tak pantas, gitu... Kalau begitu, mah lebih baik kayak kita ini ya, bebas.” Padahal sama saja, si ‘A’ yang terlalu fanatik dengan sebuah kelompok emang tidak baik tapi, you yang terlalu bebas, hingga tidak lagi memperhatikan rambu-rambu syari’at juga tidak boleh.

Jadi, selain virus H1 dan N1 atau yang lazim disebut flu babi yang hari-hari ini sedang menggemparkan dunia, yang lebih dahsayat lagi adalah virus perusak keikhlasan, apapun jenis virusnya. Karena virus ini akibatnya akan lebih fatal, semua bentuk amal yang dilakukan nyaris sia-sia belaka dan hasilnyapun terkadang tak semaksimal yang digubah dengan tembok ikhlas. Na’uzu billahi min dzalika.

Wallahu a’la wa a’lam

oleh M.Harmin Abdul Aziz
dari: www.eramuslim.com

0 komentar: